![]() |
Ilustrasi Penataan Ruang Untuk Kawasan Rawan Banjir by GISTARIAU.com |
Banjir masih jadi masalah klasik di banyak daerah di Indonesia. Setiap musim hujan datang, berita tentang jalan tergenang, rumah terendam, hingga aktivitas lumpuh selalu muncul. Padahal, kalau ditelusuri lebih dalam, banjir bukan cuma soal hujan deras, tapi juga sangat berkaitan dengan cara kita menata ruang.
Penataan ruang yang tidak memperhitungkan kondisi alam sering menjadi pemicu utama terjadinya banjir. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, dan minimnya ruang terbuka hijau membuat air hujan tidak punya tempat untuk meresap. Akhirnya, air mengalir ke permukaan dan menyebabkan genangan bahkan banjir besar.
Artikel ini akan membahas secara sederhana dan mudah dipahami tentang penataan ruang dengan antisipasi banjir, agar kita semua—baik mahasiswa maupun masyarakat umum—bisa memahami akar masalahnya dan pentingnya solusi jangka panjang.
Kenapa Banjir Terus Terjadi?
Banyak orang berpikir banjir adalah takdir alam. Padahal, dalam banyak kasus, banjir adalah hasil dari kesalahan manusia sendiri. Curah hujan tinggi memang faktor alami, tapi dampaknya sangat tergantung pada kondisi lingkungan.
Beberapa penyebab utama banjir yang sering terjadi antara lain:\
- Berkurangnya daerah resapan air
- Penataan ruang yang tidak sesuai rencana
- Sungai yang menyempit atau dangkal
- Drainase perkotaan yang tidak berfungsi optimal
- Pembangunan di kawasan rawan banjir
Ketika lahan hijau berubah menjadi beton dan aspal, air hujan tidak lagi meresap ke tanah. Akibatnya, debit air permukaan meningkat dan memicu banjir di kawasan hilir.
Apa Itu Penataan Ruang?
Secara sederhana, penataan ruang adalah proses mengatur pemanfaatan ruang darat, laut, dan udara agar selaras dengan lingkungan dan kebutuhan manusia. Tujuannya bukan hanya pembangunan, tapi juga menjaga keseimbangan alam.
Dalam konteks banjir, penataan ruang seharusnya:
- Menghindari pembangunan di daerah rawan banjir
- Menjaga fungsi sungai dan daerah aliran sungai (DAS)
- Menyediakan ruang terbuka hijau yang cukup
- Mengatur kepadatan bangunan
Kalau penataan ruang dilakukan dengan benar, risiko banjir bisa ditekan secara signifikan.
Hubungan Penataan Ruang dan Banjir
Hubungan antara penataan ruang dan banjir itu sangat erat. Kesalahan dalam mengatur ruang hampir selalu berujung pada masalah banjir.
Contohnya:
- Permukiman dibangun di dataran rendah atau bantaran sungai
- Kawasan industri menutup saluran air alami
- Jalan dan perumahan dibangun tanpa sistem drainase yang baik
Semua itu membuat air kehilangan jalur alaminya. Akibatnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, air meluap dan menyebabkan banjir.
Karena itu, penataan banjir sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari kebijakan tata ruang yang tepat.
Prinsip Penataan Ruang Berbasis Antisipasi Banjir
Agar penataan ruang mampu mengurangi risiko banjir, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diterapkan.
1. Menjaga Daerah Resapan Air
Ruang terbuka hijau seperti taman, hutan kota, dan lahan kosong sangat penting untuk menyerap air hujan. Idealnya, kota memiliki minimal 30% ruang terbuka hijau.
2. Perlindungan Daerah Aliran Sungai
Bantaran sungai seharusnya bebas dari bangunan permanen. Sungai perlu ruang untuk menampung air saat debit meningkat, terutama saat musim hujan.
3. Pengendalian Alih Fungsi Lahan
Alih fungsi lahan pertanian atau hutan menjadi kawasan terbangun harus dikendalikan secara ketat. Jika tidak, potensi banjir akan terus meningkat setiap tahun.
4. Sistem Drainase Terintegrasi
Drainase bukan sekadar selokan kecil. Sistem ini harus dirancang menyatu dengan tata ruang, sungai, dan kolam retensi agar mampu menampung limpasan air.
Penataan Banjir di Kawasan Perkotaan
Di kota besar, tantangan banjir jauh lebih kompleks. Kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan sering membuat penataan ruang jadi tidak ideal.
Beberapa strategi penataan banjir di perkotaan antara lain:
- Pembangunan kolam retensi dan waduk kota
- Penerapan sumur resapan di kawasan permukiman
- Revitalisasi sungai dan drainase
- Pengaturan zonasi kawasan rawan banjir
Dengan pendekatan ini, banjir tidak hanya ditangani saat terjadi, tapi dicegah sejak tahap perencanaan ruang.
Peran Mahasiswa dan Masyarakat
Penataan ruang bukan cuma urusan pemerintah atau ahli tata kota. Mahasiswa dan masyarakat punya peran penting dalam mengurangi risiko banjir.
Beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
- Tidak membuang sampah ke sungai atau drainase
- Mendukung kebijakan tata ruang berkelanjutan
- Menjaga ruang terbuka hijau di lingkungan sekitar
- Mengkritisi pembangunan yang melanggar aturan tata ruang
Kesadaran kolektif ini sangat penting agar penataan ruang berjalan sesuai tujuan awalnya.
Penataan Ruang sebagai Solusi Jangka Panjang
Penanganan banjir tidak cukup dengan solusi instan seperti pompa air atau tanggul. Solusi tersebut penting, tapi sifatnya sementara. Penataan ruang yang baik adalah solusi jangka panjang.
Dengan perencanaan yang matang, berbasis data, dan memperhatikan kondisi alam, risiko banjir bisa ditekan tanpa harus mengorbankan pembangunan. Justru, pembangunan yang selaras dengan lingkungan akan lebih berkelanjutan dan aman.
Banjir bukan sekadar bencana alam, tapi juga cerminan dari bagaimana kita mengelola ruang. Penataan ruang dengan antisipasi banjir adalah kunci utama untuk mengurangi risiko genangan dan kerugian di masa depan.
Dengan menjaga daerah resapan, melindungi sungai, mengendalikan alih fungsi lahan, serta melibatkan masyarakat, masalah banjir bisa ditangani dari akarnya. Untuk mahasiswa dan masyarakat awam, memahami hubungan antara penataan ruang dan banjir adalah langkah awal menuju lingkungan yang lebih aman dan nyaman.
Kalau penataan ruang dilakukan dengan benar, banjir bukan lagi ancaman tahunan, tapi masalah yang bisa dikendalikan bersama.



